Pemilu Legislatif - pemilihan calon legislatif untuk menjadi anggota DPR dan MPR

Mau Gak Jadi Caleg....????

Visi dan Misi Nyaris Mirip

Target utama dalam berkampanye adalah bagaimana para calon pemilih mengingat nama caleg, nomor urut, dan nama partai. Sementara itu, slogan, visi, dan misi tidak perlu ditekankan karena para pemilih tidak akan memikirkan slogan yang dibuat para caleg yang hampir mirip semua. Oleh karena itu, menurut pengamatannya, dari keseluruhan faktor yang harus ditaklukan, cara dan jenis media berkomunikasi akan sangat menentukan pencapaian target dalam berkampanye.

Berdasar pengamatan di lapangan, para caleg masih menggunakan pola lama dalam berkomunikasi, seperti spanduk dan sms. Dengan perubahan peta jumlah partai peserta pemilu dan jumlah caleg seharusnya harus diubah pola dan media komunikasi yang digunakan.

“Para caleg harus pandai menentukan media komunikasi yang tepat untuk mengedukasi pemilih agar mengingat nama caleg, partai dan nomor urut. Untuk pemilu 2009, era spanduk sudah selesai. Spanduk hanya diingat sesaat dan tidak meninggalkan ingatan (memori) yang mendalam bagi para pembacanya yang sebagian besar adalah pelintas jalan dengan kendaraan bergerak. Pembaca tidak mungkin diedukasi untuk mengingat karena pemasang spanduk tidak sedikit dan para pembaca sebagian terkonsentrasi pada jalan,“ ujar Putut Prabantoro.

Hal yang sama juga terjadi pada alat komunikasi melalui Short Message Service (SMS), Putut Prabantoro menambahkan, juga tidak bisa digunakan sepenuhnya. Bagi para caleg yang tempat tinggal adalah sama dengan daerah pilihan (dapil), ada kemungkinan untuk menggunakan SMS. SMS itu hanya salah satu alternatif komunikasi yang bisa digunakan sebagai tambahan, namun bukan yang pokok. Jika memang dipilih untuk digunakan, SMS memiliki kelemahan karena nomor yang dituju adalah acak sehingga tidak terjamin keberhasilannya dan efektifitas media ini sangat kurang dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Pada pokoknya, strategi yang dipilih harus benar-benar tepat sasaran dan tidak dapat menggunakan benchmarking atau duplikasi pola komunikasi yang digunakan caleg lain. Masyarakat pemilih kota dan desa berbeda cara berkomunikasinya dan media yang digunakan.

<<<<<-------Kembali

0 comments:

Post a Comment